
Fajar baru saja menyingsing ketika atmosfer religius yang kental menyelimuti ruang-ruang kelas di SMA Wahid Hasyim Tersono, Batang. Berbeda dengan rutinitas sekolah pada umumnya yang langsung berhadapan dengan tumpukan buku pelajaran, lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU ini mengawali hari dengan sentuhan spiritual yang mendalam. Kegiatan kokurikuler tahlil dan kultum yang digelar pagi ini menjadi bukti nyata komitmen sekolah dalam menyeimbangkan kecerdasan intelektual (fikriyyah) dengan ketajaman spiritual (ruhiyyah) para peserta didiknya.
Suasana khidmat mulai terasa saat para siswa duduk rapi bersila di atas amparan karpet hijau masjid sekolah. Pagi ini, giliran para kader muda dari Kelas X.2 yang memegang estafet tanggung jawab sebagai petugas pelaksana kegiatan. Dengan mengenakan seragam batik hijau khas bermotif nuansa Islami yang rapi lengkap dengan peci hitam, mereka tampak siap dan percaya diri mengemban amanah di hadapan rekan-rekan sejawatnya.
Prosesi ibadah pagi dimulai dengan pembacaan kalimat-kalimat thoyyibah yang dipimpin langsung oleh Muhammad Faqih Aunillah selaku pimpinan tahlil. Suaranya yang lantang namun teduh menggema ke setiap sudut ruangan, memandu seluruh jemaah untuk melantunkan zikir bersama dengan penuh kekhusyukan. Di bawah bimbingan guru senior, Bp. Drs. Muttakin (Guru Pendidikan Agama Islam) bersama guru mata pelajaran jam pertama, esensi zikir pagi ini tidak sekadar menjadi formalitas, melainkan sarana membersihkan hati sebelum menerima cipratan ilmu pengetahuan.
Setelah rangkaian untaian zikir selesai dikumandangkan, suasana menjadi semakin syahdu saat mikrofon beralih kepada Muhammad Faqih Khusnil Mubarok. Dirinya memimpin pembacaan doa tahlil dengan untaian kalimat yang sarat akan makna permohonan ampunan, keberkahan hidup, serta keselamatan bagi seluruh keluarga besar sekolah, bangsa, dan negara. Kekhusyukan begitu terpancar dari wajah-wajah siswa yang menengadahkan kedua telapak tangan mereka, mengamini setiap bait doa yang dilangitkan dengan tulus.
Puncak dari kegiatan kokurikuler pagi ini ditandai dengan penyampaian kuliah tujuh menit (kultum) oleh Muhammad Yusuf Al Faiq. Mengusung tema yang sangat relevan dengan dinamika remaja saat ini, Yusuf membawakan materi bertajuk “Giat Belajar untuk Meraih Prestasi di Masa Depan”. Berbekal catatan kecil di tangannya, ia memaparkan pemikiran teoretis dan praktis tentang mengapa generasi Z tidak boleh terlena oleh kemudahan teknologi dan harus tetap menaruh fokus utama pada ketekunan belajar.
Dalam sosiologi pendidikan, kegigihan belajar sering dikaitkan dengan konsep Self-Regulated Learning yang dikemukakan oleh pakar psikologi umum, Barry Zimmerman. Teori ini menekankan bahwa prestasi masa depan bukan sekadar produk dari bakat alami, melainkan hasil dari kemampuan siswa mengelola waktu, meregulasi motivasi diri, serta gigih menghadapi kesulitan akademis. Yusuf seolah mengonfirmasi teori tersebut melalui untaian pesannya, mengingatkan rekan-rekannya bahwa kesuksesan hari esok dibeli dengan keringat kerja keras hari ini.
Perspektif umum tersebut dipertegas Yusuf dengan menyitir pesan agung dari tokoh-tokoh Muslim klasik, salah satunya adalah untaian nasihat dari Imam Syafi’i. Ia mengutip maklumat populer sang Imam: “Barangsiapa yang tidak mau merasakan pahitnya belajar walau sesaat, maka ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.” Referensi historis ini menjadi suntikan motivasi yang kuat bagi para siswa Kelas X.2 agar tidak memandang belajar sebagai beban, melainkan sebagai sebuah investasi spiritual dan intelektual jangka panjang yang mulia.
Keberhasilan para siswa Kelas X.2 dalam menjalankan tugas kokurikuler ini menuai apresiasi mendalam dari pendamping kegiatan, Bp. Drs. Muttakin. Menurutnya, pelibatan aktif siswa dalam memimpin tahlil dan kultum merupakan implementasi nyata dari konsep pendidikan karakter berbasis religiusitas. Kegiatan ini memberi ruang bagi siswa untuk melatih mental berbicara di depan publik (public speaking), memupuk rasa percaya diri, sekaligus membentuk karakter kepemimpinan Islami (leadership) yang sangat dibutuhkan di era modern.
Rangkaian kegiatan kokurikuler tahlil dan kultum pagi ini ditutup dengan mushafahah (bersalam-salaman) sebelum para siswa bergegas kembali ke kelas masing-masing untuk memulai kegiatan belajar mengajar jam pertama. Energi positif dan ketenangan batin yang didapatkan dari zikir pagi diharapkan mampu menjadi bahan bakar semangat bagi siswa untuk menyerap ilmu geografi, matematika, maupun sains dengan lebih optimal. Dari Tersono, Batang, tunas-tunas bangsa ini sedang ditempa untuk menjadi generasi unggul yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga kokoh imannya.
1. Sumber Informasi Kegiatan & Institusi
- Situs Resmi SMA Wahid Hasyim Tersono (Whaterbat)
(Digunakan untuk memvalidasi profil sekolah, struktur pengajar seperti Bp. Drs. Muttakin, serta kesesuaian Kegiatan Kokurikuler Keaswajaan yang rutin dilakukan oleh para siswa untuk melatih mental dan spiritual). [1, 2] - Dokumentasi Visual Kegiatan Kelas X.2
(Merupakan data primer berbasis gambar yang mengonfirmasi peran nama-nama petugas secara presisi: Muhammad Faqih Aunillah sebagai pimpinan tahlil, Muhammad Faqih Khusnil Mubarok pembaca doa, dan Muhammad Yusuf Al Fai pengisi kultum).
2. Referensi Tokoh & Keilmuan Muslim
- Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris (Imam Syafi’i). Kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, Bab Fadhlul ‘Ilmi wat Ta’allum (Keutamaan Ilmu dan Belajar).
(Menjadi landasan kutipan kultum mengenai pentingnya menahan kepahitan serta kelelahan dalam menuntut ilmu demi menghindari hinanya kebodohan di masa depan). [1, 2] - Konsep Ta’dib dan Nilai Keaswajaan (Ahlussunnah wal Jama’ah)
(Digunakan sebagai landasan analisis integrasi kegiatan amaliah nahdliyin (tahlil) oleh LP Ma’arif NU ke dalam institusi sekolah demi pembentukan karakter religius siswa sejak dini). [1]
3. Referensi Pakar Pendidikan & Psikologi Umum
- Zimmerman, Barry J. (2000). Becoming a Self-Regulated Learner: An Overview. Routledge: Theory Into Practice.
(Digunakan untuk membedah tema materi kultum secara sosiologis, di mana kemandirian belajar, manajemen motivasi diri, dan ketekunan merupakan kunci utama siswa meraih prestasi). - Schunk, Dale H., & Zimmerman, Barry J. (1998). Self-Regulated Learning: From Teaching to Self-Reflective Practice. New York: Guilford Press.
(Menjadi landasan teoretis bahwa penugasan aktif berbicara di depan publik seperti kultum bermanfaat melatih kematangan proses belajar mandiri/self-reflective dan kepercayaan diri siswa). [1, 2]