
Peristiwa Gerakan 30 September atau G30S/PKI merupakan salah satu catatan paling kelam dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Setiap kali kalender memasuki akhir bulan September, memori kolektif seluruh rakyat Indonesia ditarik kembali pada tragedi gugurnya para perwira terbaik TNI Angkatan Darat. Peringatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan untuk mengenang duka, melainkan sebuah momentum krusial untuk merefleksikan kembali nilai-nilai persatuan, kesetiaan pada Pancasila, dan pentingnya menjaga stabilitas nasional dari segala bentuk ancaman ideologi yang bertentangan dengan kepribadian bangsa.
Tragedi ini menjadi bukti nyata betapa mahalnya harga sebuah kedaulatan dan persatuan di atas bumi pertiwi. Pada malam jahanam tersebut, enam jenderal dan satu perwira pertama diculik, dianiaya, dan gugur secara tragis di Lubang Buaya. Mereka yang berkorban demi mempertahankan ideologi negara kini kita kenal sebagai Pahlawan Revolusi. Melalui peringatan ini, generasi muda diajak untuk memahami bahwa kemerdekaan dan kedamaian yang dinikmati hari ini tidak hadir begitu saja, melainkan ditebus dengan darah dan air mata para pejuang yang teguh menjaga tegaknya Pancasila.
Sejarah mencatat banyak sudut pandang mengenai kedahsyatan peristiwa ini, salah satunya dari penuturan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Beliau yang berhasil lolos dari kepungan maut malam itu—meski harus kehilangan putri tercintanya, Ade Irma Suryani, dan ajudannya, Kapten Pierre Tendean—selalu menekankan pentingnya kewaspadaan nasional. Dalam berbagai catatan sejarah dan pidatonya, Nasution mengingatkan bahwa G30S/PKI adalah sebuah pengkhianatan nyata terhadap negara dan Pancasila. Bagi beliau, menjaga ideologi negara dari infiltrasi paham komunisme adalah harga mati yang tidak boleh ditawar oleh generasi penerus.
Di sisi lain, proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, memberikan pandangan historis yang mendalam pasca-peristiwa tersebut melalui pidato kepresidenannya. Bung Karno menggambarkan peristiwa G30S sebagai sebuah jalinan dari tiga faktor utama, yaitu keblingangan unsur-unsur PKI, kelihaian subversi asing, dan adanya oknum yang tidak bertanggung jawab. Melalui konsep “Jasmerah” (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah), Bung Karno selalu mengajak bangsa ini untuk tidak melupakan akar sejarah, termasuk masa-masa sulit, agar kita bisa belajar menjadi bangsa yang lebih matang dan bijaksana dalam menghadapi dinamika politik global.
Referensi penting lainnya datang dari penuturan Prof. Dr. Salim Haji Said, seorang tokoh intelektual dan pengamat militer terkemuka di Indonesia. Dalam analisis sejarahnya yang dibukukan, Salim Said menjelaskan bahwa ketegangan politik menjelang tahun 1965 dipicu oleh rivalitas segitiga yang sangat tajam antara Bung Karno, pihak militer (TNI AD), dan PKI. Beliau menekankan bahwa tragedi G30S adalah puncak dari polarisasi ideologi yang kebablasan pada masa itu. Pandangan objektif seperti ini sangat berharga bagi generasi masa kini agar dapat melihat sejarah secara komprehensif dan menghindari kesalahan serupa di masa depan.
Menatap masa depan, tantangan yang dihadapi oleh generasi muda tentu sudah sangat berbeda dengan era tahun 1965. Saat ini, peperangan tidak lagi menggunakan senjata api, melainkan melalui perang pemikiran, hoaks, dan infiltrasi budaya digital yang berpotensi memecah belah persatuan. Oleh karena itu, memperingati G30S/PKI di era modern harus dimanifestasikan dalam bentuk penguatan literasi digital, penanaman karakter berbasis Pancasila, serta penumbuhan rasa cinta tanah air yang kokoh agar tidak mudah terombang-ambing oleh narasi-narasi radikal yang memecah belah bangsa.
Lembaga pendidikan memegang peranan yang sangat vital sebagai garda terdepan dalam mentransfer nilai-nilai kesejarahan ini kepada para siswa. Sekolah bukan hanya tempat untuk menghafal tahun kejadian atau nama-nama pahlawan yang gugur, melainkan laboratorium moral untuk menumbuhkan jiwa patriotisme. Melalui pembelajaran sejarah yang jujur dan mendalam, para siswa diajak untuk mengambil hikmah terbaik dari masa lalu: bahwa persatuan dan kesatuan bangsa adalah fondasi utama yang harus dijaga demi tercapainya cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Sebagai bentuk komitmen dalam merawat ingatan sejarah dan menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan pelajar, SMA Wahid Hasyim Tersono turut berdiri bersama seluruh elemen bangsa untuk memperingati momentum bersejarah ini. Kami percaya bahwa dengan mengingat perjuangan para pahlawan, para siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas dan siap membentengi diri serta negara dari segala ancaman ideologi radikal. Semangat juang dan keteguhan para Pahlawan Revolusi harus terus hidup dalam sanubari setiap pelajar di lingkungan sekolah kami.
“Kami keluarga besar SMA Wahid Hasyim Tersono mengucapkan: Selamat Memperingati Hari Kesaktian Pancasila dan Menolak Lupa Tragedi G30S/PKI. Mari kita tundukkan kepala sejenak untuk mendoakan para Pahlawan Revolusi yang telah gugur mendahului kita. Jadikan sejarah kelam masa lalu sebagai pelajaran berharga, dan mari kita rapatkan barisan, perkokoh persatuan, serta teguhkan hati untuk selalu mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila demi kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia!”
Referensi:
1. Memoar dan Penuturan Pelaku Sejarah (Jenderal A.H. Nasution)
- Buku: Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru
- Penulis: Jenderal Besar Abdul Haris Nasution
- Penerbit: Gunung Agung, Jakarta (1987)
- Deskripsi: Buku ini merupakan catatan tebal dan kesaksian langsung dari Jenderal A.H. Nasution mengenai ketegangan politik tahun 1965, detail malam penculikan di kediamannya, serta langkah-langkah militer pasca-peristiwa untuk mengamankan Pancasila.
2. Pidato Kedinasan dan Konsep Historis (Presiden Soekarno)
- Dokumen/Pidato: Pidato Nawaksara (22 Juni 1966) dan Pelengkap Nawaksara (10 Januari 1967) serta Pidato Jasmerah (1966).
- Tokoh: Ir. Soekarno
- Deskripsi: Sumber ini memuat sikap resmi Bung Karno di depan MPRS mengenai peristiwa G30S, yang beliau sebut sebagai akibat dari tiga faktor: keblingangan pimpinan PKI, subversi asing, dan adanya oknum yang tidak bertanggung jawab. Istilah Jasmerah (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah) juga bersumber dari pidato-pidato beliau di era ini.
3. Analisis Militer dan Politik Kontemporer (Prof. Dr. Salim Said)
- Buku: Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian atau Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Militer Indonesia
- Penulis: Prof. Dr. Salim Haji Said
- Penerbit: Mizan, Bandung
- Deskripsi: Tokoh intelektual dan pengamat militer ini memberikan analisis mendalam mengenai dinamika politik segitiga (Bung Karno, Angkatan Darat, dan PKI) yang memicu meletusnya tragedi 30 September 1965.
4. Narasi Sejarah Resmi (Prof. Dr. Nugroho Notosusanto)
- Buku: Tragedi Nasional Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia
- Penulis: Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh
- Penerbit: Intermasa, Jakarta (1989)
- Deskripsi: Ini adalah buku teks sejarah resmi pertama yang diterbitkan secara nasional yang mendokumentasikan kronologi kronis penculikan para jenderal, penemuan sumur Lubang Buaya, serta melatarbelakangi penetapan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober.