
BATANG – Suasana khidmat menyelimuti kompleks SMA Wahid Hasyim Tersono pada hari Jumat pagi ini. Lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan LP Ma’arif NU tersebut sukses menggelar agenda rutin “Jumat Religi”. Kegiatan yang memadukan penguatan spiritual dan pembinaan karakter ini diikuti secara antusias oleh seluruh siswa, jajaran guru, serta staf sekolah.
Rangkaian acara diawali dengan pelantunan Asmaul Husna yang dipimpin secara merdu oleh Muhammad Aflakhul Waqi, siswa berbakat dari kelas XI.A. Gema asma-asma Allah yang agung memenuhi aula sekolah, menciptakan atmosfer religius yang menyejukkan hati. Pembacaan ini sejalan dengan konsep taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) yang sering ditekankan oleh para ulama untuk menenangkan jiwa generasi muda.
Setelah pembacaan Asmaul Husna, suasana religius semakin mendalam saat Muhammad Arifa Nur Rizkiyanto, yang juga merupakan perwakilan dari kelas XI.A, tampil sebagai pembaca Tahlil dan doa. Dengan khusyuk, seluruh peserta didik dan guru larut dalam lantunan zikir. Kegiatan spiritual ini menjadi pondasi penting untuk membangun benteng moral bagi para pelajar di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.
Memasuki acara inti, suasana keagamaan berlanjut pada sesi pembinaan karakter yang disampaikan langsung oleh Kapolsek Tersono, AKP Samsul Ma’arif, S.H., M.H. Perwira polisi senior yang resmi mengemban tugas sebagai Kepala Polsek Tersono sejak 1 Januari 2026 tersebut hadir untuk memberikan arahan taktis demi menyelamatkan masa depan generasi muda di wilayah hukum Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang.
Dalam pembinaan tersebut, AKP Samsul Ma’arif membagi paparannya ke dalam dua materi krusial. Materi pertama berfokus pada dinamika kenakalan remaja yang kerap terjadi di lingkungan sekitar, mulai dari pentingnya mematuhi tata tertib berkendara demi keselamatan, bahaya laten perundungan (bullying) baik fisik maupun verbal di sekolah, hingga pencegahan aksi tawuran antar-pelajar yang dapat merusak masa depan.
Lebih lanjut, Kapolsek memberikan perhatian khusus pada materi kedua, yaitu penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan narkotika di kalangan remaja. Beliau memaparkan dampak buruk secara medis dan hukum bagi siapa saja yang terjerumus ke dalam lingkaran hitam psikotropika. Langkah preventif ini dinilai sangat tepat guna memutus rantai peredaran zat berbahaya di lingkungan institusi pendidikan.
Harapan besar digantungkan lewat terselenggaranya pembinaan komprehensif ini. Pihak kepolisian dan sekolah berkomitmen agar seluruh siswa, khususnya di SMA Wahid Hasyim Tersono, dapat terhindar dari segala bentuk dan jenis kenakalan remaja. Dengan pengetahuan hukum dan moral yang matang, para siswa diharapkan mampu memilah pergaulan yang positif dan produktif.
Komitmen ini tidak berhenti sampai di sini saja. Sebagai bentuk kepedulian yang berkelanjutan, AKP Samsul Ma’arif menyatakan komitmennya untuk secara rutin menggelar pembinaan serupa secara berkala di sekolah ini ke depannya. Langkah konsisten dari kepolisian ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang aman, tertib, dan bebas dari kriminalitas.
Agenda sinergis ini sejalan dengan pandangan sosiolog umum seperti Emile Durkheim mengenai fungsi preventif institusi sosial dalam mencegah penyimpangan, serta selaras dengan pesan tokoh Muslim Prof. Quraish Shihab tentang pentingnya menyelaraskan kecerdasan intelektual dengan kesucian hati (akhlakul karimah). Melalui integrasi antara Jumat Religi dan pembinaan Kamtibmas, SMA Wahid Hasyim Tersono optimistis mampu mencetak generasi emas yang unggul dalam prestasi dan mulia dalam kepribadian.
➡️ 1. Referensi Tokoh Muslim
- Prof. Dr. AGH. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A. (Cendekiawan Muslim & Ahli Tafsir)
- Konsep Pemikiran: Beliau selalu menekankan pentingnya konsep Akhlakul Karimah (akhlak yang mulia) sebagai benteng utama generasi muda dalam menghadapi modernisasi. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya mengejar kecerdasan intelektual semata, melainkan harus menyelaraskan antara akal (ilmu pengetahuan) dan hati (spiritualitas/agama) agar tercipta kepribadian yang seimbang (tawazun). Lantunan Asmaul Husna dan Tahlil menjadi sarana mengasah kepekaan hati tersebut.
- Imam Al-Ghazali (Ulama dan Filsuf Muslim Klasik)
- Konsep Pemikiran: Dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menyatakan bahwa jiwa remaja itu ibarat permata yang polos, suci, dan bersih. Jiwa tersebut sangat mudah menerima warna atau pengaruh apa pun yang digoreskan kepadanya. Jika dibiasakan pada kebaikan (seperti Jumat Religi), ia akan tumbuh dengan baik. Sebaliknya, pembinaan disiplin dari aparat hukum (seperti Kapolsek) bertindak sebagai amar ma’ruf nahi munkar untuk menjaga agar “permata” tersebut tidak ternoda oleh kenakalan remaja.
➡️ 2. Referensi Tokoh Umum
- David Emile Durkheim (Sosiolog Terkemuka asal Prancis)
- Konsep Pemikiran: Durkheim mencetuskan teori tentang Kontrol Sosial dan Integrasi Sosial. Menurutnya, lembaga pendidikan (sekolah) dan lembaga hukum (kepolisian) adalah dua instansi sosial yang wajib bersinergi untuk mencegah terjadinya Anomie—suatu kondisi di mana remaja kehilangan arah, norma, dan batasan sosial yang memicu perilaku menyimpang seperti tawuran, pembulian, dan narkoba. Kehadiran Kapolsek secara rutin bertindak sebagai penguat kontrol sosial formal.
- Aristoteles (Filsuf Klasik)
- Konsep Pemikiran: Aristoteles pernah menyatakan, “Educating the mind without educating the heart is no education at all” (Mendidik pikiran tanpa mendidik hati sama saja dengan tidak mendidik sama sekali). Pandangan ini sangat relevan dengan materi pembinaan AKP Samsul Ma’arif. Remaja tidak hanya perlu tahu peraturan berkendara atau undang-undang narkoba secara tekstual (pikiran), tetapi mereka harus disentuh secara moral (hati) agar memiliki kesadaran murni untuk menjauhinya.